Kamis, 21 Februari 2013

Pernikahan Adat Karo

Jadi, setelah saya menikah nanti, saya akan menjadi wanita dengan dua marga, untuk adat Batak saya menjadi Boru Sinambela (karena Bapakke marga Sinambela) dan untuk adat Karo nya saya akan menjadi Beru Ginting (karena Mamamer juga Beru Ginting, biar mar-pariban gitu ceritanya, kalo di karo Impal)

Honestly, bayanginnya aja dah ribet. Temen - temen yang tau rencana perjalanannya aja dah usap kening, sambil bilang, "ribet ya, boo!"

Sehubungan buta banget soal adat Karo, jadilah saya belajar sedikit demi sedikit dari internet (say thanks to siapa aja yang nemuin internet). Berikut yang saya dapet dari situs sebelah tentang pernikahan adat karo.


Ternyataaah pemirsaah, ada tahapan dalam pernikahan adat Karo, yaitu :

I. Persiapan Kerja Adat

1. Sitandan Ras Keluarga Pekepar 

Tahapan ini adalah tahapan perkenalan antara keluarga kedua belah pihak yang akan melangsungkan pernikahan, sekaligus orang tua kedua belah pihak akan menyampaikan kepada “Anak Beru” masing-masing untuk menentukan hari yang baik untuk menggelar pertemuan di rumah pihak “Kalimbubu” untuk membahas rencana “Mbaba Belo Selambar” 

Note : Dalam adat Karo, pihak orangtua calon pengantin wanita adalah Kalimbubu (Tulang dalam adat Batak). Harusnya, Bapakke adalah Kalimbubu si Mr. Bibo, berhubung saya Batak, jadinya nanti saya akan dibawa ke Kalimbubu nya Mr. Bibo, buat dijadiin Beru nya. Dan yang menjadi Bapak saya dalam Adat Karo adalah paman Mr. Bibo dari pihak Mamamer (Ginting), nantinya saya menjadi Sinambela - Ginting. Hahaha, jadi sebelum tahapan ini masi ada tahapan lain. (*semangaaaaat!!!)

2. Mbaba Belo Selambar

Dalam tahapan Mbaba Belo Selambar ini, tempat berkumpul, yaitu di rumah pihak “Kalimbubu”, dalam hal ini pihak laki-laki akan membawa makanan yang sudah dimasak lengkap dengan lauk yang akan menjadi makanan sebelum dilakukan pembicaraan mencari hari yang baik untuk melaksanakan tahapan “Nganting Manuk”

Note : Maba Belo Selambar, si Cami ngajarinnya itu, ga taunya Mbaba Belo Selambar. Arti harfiahnya si katanya Membawa Sirih Selembar, kalau Nganting Manuk artinya Membawa Ayam. Belum tau pasti saya yang bawa sirih dan yang bawa ayam itu pihak laki laki atau perempuan. Dan karena saya nya bukan Karo, jadi Mbaba Belo tidak dirumah Kalimbubu Mr.Bibo (dalam hal ini, si Bapak Ginting yang menjadi Bapak Adat Karo saya), melainkan di gedung terdekat. 
Sederhana aja, sebenernya Mbaba Belo harusnya sederhana, karena kan cuma bawa sirih selembar dan ayam seekor. Cuma dalam pelaksanaannya, ga bisa bo. Apalagi untuk kami yang adat campur ini :) 

3. Nganting Manuk

Dalam tahapan ini akan membicarakan tentang utang-utang adat pada pesta perkawinan yang akan segera digelar, sekaligus merencanakan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Namun hari pernikahan tidak boleh lebih 1 bulan sesudah melaksanakan tahapan Ngantig Manuk.

Note : Nah, ini dijadiin satu acara. jadi namanya nanti di kami Mbaba Belo Selambar - Nganting Manuk

II. Hari Pesta Adat

4. Kerja Adat

Pelakasanaan Kerja Adat biasanya dilakukan selama seharian penuh di kampung pihak perempuan. Tempat pelaksanaan Kerja Adat biasanya dilakukan di Balai Desa atau yang biasa juga disebut dengan istilah “Jambur” atau “Lost”

Note : Belom paham semuanya, saya cuma tau nanti bakal dipakein tudung, trus bakal disuruh nari berdua, trus disuruh nyanyi :D heheheheh dikit banget ya tau nya

5. Persadan Tendi

Pelaksanaan Persadan Tendi dilakukan pada saat makan malam sesudah siangnya dilakukan Kerja Adat bagi pengantin pria dan wanita. Dalam pelaksaan Persadan Tendi ini akan disiapkan makanan bagi kedua pengantin yang tujuannya adalah untuk memberi tenaga baru bagi pengantin. Pengantin akan diberi makan dalam satu piring yang sudah siapkan.

Note : Karena pernikahan kami dua adat, jadinya di tengah acara akan diselipin adat batak. Trus udahnya adat Karo. Sekarang saya tau, ternyata makan berdua di akhir ini, ada adatnya toh :)

III Sesudah Pesta Adat

6. Ngulihi Tudung

Ngulih tudung dilaksanakan setelah 2-4 hari setelah hari Pesta Adat berlalu. Orang tua pihak laki-laki kembali datang kerumah Orang tua pihak perempuan (biasanya pihak orang tua laki-laki membawa makanan dan lauk). Dalam prosesi Ngulihi Tudung dilakukan untuk mengambil kembali pakaian-pakaian adat pihak laki-laki yang mungkin ada tertinggal di Desa pihak perempuan disaat pesta adat digelar.

7. Ertaktak

Pelaksanaan ini dilakukan di rumah pihak kalimbubu (pihak perempuan) pada waktu yang sudah ditentukan, biasanya seminggu setelah kerja adat. Disini dibicarakanlah uang keluar saat pergelaraan pesta adat dilaksanakan. Dibicarakan pula tenang pengeluaran kerja adat yang sudah dibayar terlebih dahulu oleh pihak anak beru, sembuyak dan juga Kalimbubu. Setelah acara Ertaktak dilaksanakan, maka semua pihak baik Kalimbubu, Sembuyak, dan Anak Beru akan makan bersama-sama.

Note : belum ada gambaran sama sekali ni buat yang diatas iniii


Dan sejauh ini, saya masih sangat sedit sekali mengerti. Semoga seiring waktu saya bisa menjadi Br. Sinambela-Ginting yang baik dan bersahaja. Amiiien

1 komentar: