cause im really out of date for just watched habibie ainun yesterday, hahaha
buat yang sama freskuensi out of date nya sama saya, ini saya ada gambar poster film habibie ainun, nyolong dari sini
yup, pemerannya reza raian sama si mbak BCL. dibuat berdasarkan buku true story berjudul Habibie & Ainun yang ditulis sendiri sama Bapak Habibie ini
Ternyata, pak Habibie muda ganteng ya. Masih kelihatan raut gantengnya sampai sekarang :) Ibu Ainun juga cantik, ayu. Saya rasa pas sekali untuk diperankan oleh Reza Rahardian dan mbak BCL. Somehow, kenapa ya film nya BCL kok rasanya dapet terus emosinya. Salut deh buat mbak BCL, pinter banget dalam memainkan peran.
Tapi, yang mau saya bahas bukan itu. Melihat film ini, ada beberapa hal yang bisa ditarik :
1. Otak jenius memang butuh frekuensi yang sama untuk tetap selaras
Digambarkan dimana di Jerman, Pak Habibi sangat bisa bereksplorasi dengan kemampuan berpikirnya, rasanya bangga sekali melihat Bapak disana bisa menciptakan sesuatu :)
Bisa, bisa dibayangin gimana ruwetnya otak Pak Habibie saat itu, mungkin kalo bukan Ibu Ainun yang notabene pinter juga yang ada di samping bapak, bakal hancur kali itu rumah tangga :)
dari sini saya belajar, kita emang ga mungkin dapat orang yang seratus persen sama, namun harus seimbang (dalam banyak arti) sehingga bisa membuat sebuah lembaga pernikahan bisa berjalan sampai akhir hayat di dunia
2. Ada harga untuk setiap pengorbanan
Ibu Ainun ternyata dokter anak, dan beliau meninggalkan itu semua untuk berada di samping Bapak. Mendampingi, merawat dan menjaga anak anak Bapak.
Pertama ngebayanginnya aja udah "ya ampun, sayang amat ya kuliahnya. Ujung - ujungnya di dapur aja." Tapi, ya ternyata seperti itu. Dalam hidup ini, ga semua bisa kita raih. Mungkin kalau Ibu tetap memilih berkarir, Bapak ga akan menjadi Bapak yang sekarang. She must be very good, excellent lady.
Ditarik kesimpulan, saat akan menikah nanti, saya sudah harus siap untuk menerima ini. Bahwasanya saat kita menikah, kita ga bisa egois lagi, kita ga bisa seenaknya mengejar karir tapi menelantarkan anak dan suami. Bahwasanya, dia, lelaki yang telah memilih kita untuk mendampinginya, benar ingin didampingi, dilayani, dihormati dan dirusuhi sepanjang hidup. Itu yang membuat harmonis
3. Berserah
Sekuat apapun cinta Bapak buat Ibu, akan ada saatnya berpulang kepada sang Khalik. Penerimaan yang sangat sulit awalnya, menjadikan Bapak pribadi yang akan berjuang apapun demi Ibu. Namun diakhirnya, ibu terpaksa meninggalkan Bapak terlebih dahulu.
Iya, sedih. Namun ini hal yang perlu dicermati pula, bahwa suatu saat kita akan meninggalkan ini semua. Menjadi suatu hal yang tidak bisa kita tawar, perlu jiwa besar, perlu iman kuat untuk melewatinya. Untunglah selama hidupnya Ibu Ainun sudah merasakan cinta yang tak pernah putus dari Bapak. Untuk itu, haruslah menyadari ini, tetap berdoa, berserah dan membiarkan tangan Tuhan melakukan pekerjaan mulia Nya buat kita.
Ini hanya review singkat dari saya, yang jelas saya merasa sangat beruntung bisa nonton film ini. Bangga menjadi orang yang hidup dalam era IPTN masih ada, sedikit sedih karena sekarang duah tidak ada lagi. Bangga menjadi bangsa Indonesia yang memiliki Bapak Habibie.
Dan saya merasa beruntung banyak mendapat pelajaran megenai cinta, hidup dan realita di dalamnya. Sungguh, setelah nonton film ini langsung kebawa romansanya dan berasa baru jadian sama pacar. hahahaha


Hola...
BalasHapusBoleh minta no hp nya ga ka...
Mau nanya nanya...
Kirim ke imelldscorpion@gmail.com